MATERI XV

SOSIOMETRI

 

 

A. Pengertian

Sosiometri adalah alat yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai hubunganhubungan

sosial dan tingkah laku sosial murid (I. Djumhur dan Muh. Surya, 1985 ).

 

Sosiometri adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu

 

dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial dan status sosial dari masing-masing

 

anggota kelompok yang bersangkutan ( Depdikbud, 1975 ).

 

Sosiometri adalah alat untuk dapat melihat bagaimana hubungan sosial atau

hubungan berteman seseorang ( Bimo Walgito, 1987 ).

 

Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang hubungan

 

sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang ( 10 -50 orang ),

 

berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-anggota kelompok (WS. Winkel, 1985 ).

 

Sosiometri adalah suatu alat yang dipergunakan mengukur hubungan sosial siswa

dalam kelompok ( Dewa Ktut Sukardi, 1983 ).

 

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian sosiometri adalah

suatu tehnik untuk mengumpulkan data tentang hubungan sosial seorang individu

dengan individu lain, struktur hubungan individu dan arah hubungan sosialnya

dalam suatu kelompok.

 

B. Macam Sosimetri

Tes Sosiometri ada dua macam , yaitu :

 

 

 

1.

Tes yang mengharuskan untuk memilih beberapa teman dalam kelompok sebagai

pernyataan kesukaan untuk melakukan kegiatan tertentu ( criterium ) bersamasama

dengan teman-teman yang dipilih.

2.

Tes yang mengharuskan menyatakan kesukaannya atau ketidaksukaannya

terhadap teman-teman dalam kelompok pada umumnya.

Tes sosiometri jenis pertama paling sering digunakan di institusi-institusi pendidikan

dengan tujuan meningkatkan jaringan hubungan sosial dalam kelompok,sedangkan

jenis yang kedua jarang digunakan, dan inipun untuk mengetahui jaringan hubungan

sosial pada umumnya saja.

 

C. Ciri

khas penggunaan angket sosiometri atau tes sosiometri , yang terikat pada

situasi pergaulan sosial atau kriterium tertentu.

1.

Dijelaskan kepada siswa yang tergabung dalam suatu kelompok, misalnya satuan

kelas, bahwa akan dibentuk kelompok-kelompok lebih kecil ( 4-6 orang ) dalam

rangka mengadakan kegiatan tertentu, seperti belajar kelompok dalam kelas,

rekreasi bersama ke pantai, dsb. Kegiatan tertentu itu merupakan situasi pergaulan

sosial ( criterion ) yang menjadi dasar bagi pilihan-pilihan.

2.

Setiap siswa diminta untuk menulis pada blanko yang disediakan nama beberapa

teman di dalam kelompok, dengan siapa dia ingin dan lebih suka melakukan

kegiatan itu. Jumlah teman yang boleh dipilih biasanya tiga orang, dalam urutan

pilihan pertama, kedua, dan ketiga. Yang terungkap dalam pilihan-pilihan itu

bukanlah jaringan hubungan sosial yang sekarang ini sudah ada, melainkan

keinginan masing-masing siswa terhadap kegiatan-kegiatan tertentu dalam hal

pembentukan kelompok. Pilihan-pilihan itu dapat berubah, bila tes sosiometri

 

 

diterapkan lagi pada lain kesempatan terhadap kegiatan lain (kriterium berbeda ).

Ada kemungkinan siswa akan memilih teman-teman yang lain untuk belajar

bersama di kelas, dibanding dengan pilihan-pilihannya untuk pergi piknik

bersama. Pilihan-pilihan siswa tidak menyatakan alasan untuk memilih, kecuali

bila hal itu dinyatakan dalam tes. Pilihan-pilihan juga tidak menyatakan tentang

sering tidaknya bergaul dengan teman-teman tertentu, atau intim tidaknya

pergaulan dengan teman-teman tertentu; bahkan tidak mutlak terungkapkan taraf

popularitas siswa tertentu, dalam arti biasanya mempunyai banyak teman,

beberapa teman atau sama sekali tidak mempunyai teman.

 

3.

Setiap siswa dalam kelompok menangkap dengan jelas kegiatan apa yang

dimaksud, dan mengetahui bahwa kegiatan itu terbuka bagi semua.

4.

Pilihan-pilihan dinyatakan secara rahasia dan hasil keseluruhan pemilihan juga

dirahasiakan. Hal ini mencegah timbulnya rasa tidak enak pada siswa, yang tidak

suka pilihannya diketahui umum atau akan mengetahui bahwa ia tidak dipilih. Ciri

kerahasiaan juga memungkinkan bahwa dibentuk kelompok-kelompok kecil yang

tidak seluruhnya sesuai dengan pilihan-pilihan siswa.

5.

Biasanya siswa diminta untuk menyatakan siapa yang mereka pilih, bukan siapa

yang tidak mereka pilih dalam urutan tidak begitu disukai, kurang disukai, tidak

disukai, sama sekali tidak disukai. menyatakan pilihan yang negatif mudah

dirasakan sebagai beban psikologis.

6.

Tenaga kependidikan yang dapat menerapkan tes sosiometri adalah guru bidang

studi, wali kelas, dan tenaga ahli bimbingan, tergantung dari kegiatan yang akan

dilakukan.

 

 

D. Kegunaan Sosiometri

Sosiometri dapat dipergunakan untuk :

 

1.

Memperbaiki hubungan insani.

2.

Menentukan kelompok kerja

3.

Meneliti kemampuan memimpin seseorang individu dalam kelompok tertentu

untuk suatu kegiatan tertentu.

4.

Mengetahui bagaimana hubungan sosial / berteman seorang individu dengan

individu lainnya.

5.

Mencoba mengenali problem penyesuaian diri seorang individu dalam kelompok

sosial tertentu.

6.

Menemukan individu mana yang diterima / ditolak dalam kelompok sosial

tertentu.

E. Norma-norma Sosiometri

Baik tidaknya hubungan sosial individu dengan individu lain dapat dilihat dari

beberapa segi yaitu :

 

1.

Frekwensi hubungan, yaitu sering tidaknya individu bergaul. makin sering

individu bergaul, pada umumnya individu itu makin baik dalam segi hubungan

sosialnya. Bagi individu yang mengisolir diri, di mana ia kurang bergaul, hal ini

menunjukkan bahwa di dalam pergaulannya kurang baik.

2.

Intensitas hubungan, yaitu intim tidaknya individu bergaul. Makin

intim/mendalam seseorang dalam hubungan sosialnya dapat dinyatakan bahwa

hubungan sosialnya makin baik. Teman intim merupakan teman akrab yang

mempunyai intensitas hubungan yang mendalam.

 

 

3.

Popularitas hubungan, yaitu banyak sedikitnya teman bergaul. Makin banyak

teman di dalam pergaulan pada umumnya dapat dinyatakan makin baik dalam

hubungan sosialnya. Faktor popularitas tersebut digunakan sebagai ukuran atau

kriteria untuk melihat baik tidaknya seseorang dalam hubungan atau kontak

sosialnya.

F. Manfaat Sosiometri dalam Bimbingan.

Dengan mempelajari data sosiometri seorang konselor dapat :

 

1.

Menemukan murid mana yang ternyata mempunyai masalah penyesuaian diri

dalam kelompoknya.

2.

Membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara murid-murid dengan

penerimaan sosialnya.

3.

Membantu meningkatkan pemahaman dan pengertian murid terhadap masalah

pergaulan yang sedang dialami oleh individu tertentu.

4.

Merencanakan program yang konstruktif untuk menciptakan iklim sosial yang

lebih baik dan sekaligus membantu mengatasi masalah penyesuaian di kelas

tertentu.

Cara untuk menciptakan suasana / iklim sosial yang baik :

Membentuk kelompok belajar / kelompok kerja .

Mempersatukan kelompok minoritas dalam klik di dalamsatu kelas.

Menciptakan hubungan baik dan harmonis

Membangun perasaan berhasil dan berprestasi. Hendaknya ditanamkan rasa

bahwa kalau kompak, akan berhasil baik.

G. Tahap-tahap Pelaksanaan Sosiometri

 

 

1. Tahap Persiapan.

Menentukan kelompok siswa yang akan diselidiki.

Memberikan informasi atau keterangan tentang tujuan penyelenggaraan

sosiometri.

Mempersiapkan angket sosiometri.

2. Tahap Pelaksanaan.

Membagikan dan mengisi angket sosiometri.

Mengumpulkan kembali dan memeriksa apakah angket sudah diisi dengan

benar

3. Tahap Pengolahan.

Memeriksa hasil angket

Mengolah data sosiometri dengan cara menganalisa indeks, menyusun tabel

tabulasi, membuat sosigram.

H. Bentuk-bentuk Sosiogram.

Sosiogram adalah diagram yang menunjukkan hubungan atau interaksi individu dalam

sebuah kelompok, yang sekaligus dapat pula ditemukan pola hubungan sosial individu

dengan individu lainnya. Sosiogram dapat dituangkan dalam bentuk sejumlah

lingkaran (dari terkecil sampai terbesar) dan dalam bentuk lajur. Contoh sosiogram :

 

1. Bentuk Lajur.

Jumlah

Pilihan

Sosiogram

3

B

D

2

A

 

 

 

 

1C

2. Bentuk Lingkaran

C3210BDA

Hal-hal yang dapat ditemukan dalam sosiogram :

 

1. Apakah terdapat lebih banyak pilihan searah atau dua arah (saling memilih).

2.

Apakah terdapat banyak pilihan antara siswa-siswa dan siswi-siswi ataukah hanya

sedikit.

3. Apakah terdapat kelompok yang cenderung bersifat tertutup karena banyak terdapat

saling memilih sebagai pilihan pertama dan kedua (klik).

4.

Apakah ada siswa yang tidak mendapat pilihan sama sekali (terisolir) atau hanya

sedikit pilihan, apalagi pilihan ketiga saja (terabaikan).

5. Apakah ada siswa yang mendapat banyak pilihan, apalagi sebagai pilihan pertama.

6.

Siswa ini dapat dianggap populer dalam kelompok seluruh kelompok teman, tetapi

hanya dalam rangka kegiatan yang menjadi kriterium.

I. Interpretasi Data Sosiometri

1.

Menurut Moreno, seorang ahli ilmu jiwa sosial, ada tiga periode dalam

mengembangkan kelompok sosial :

 

 

 

a. Periode awal sosialisasi.

Periode ini dilewati anak sampai dengan usia 9 tahun. Ciri-ciri kelompok ini

adalah :

 

Ditemui banyaknya individu yang terisolir, karena pada usia ini berpusat pada

dirinya sendiri.

Sedikit dijumpai hubungan yang saling memilih.

Kurang stabil.

b. Periode Sosialisasi I.

Periode ini dilalui anak pada usia 9 -14 tahun.

 

Ciri-cirinya :

 

Ada kecenderungan untuk membentuk kelompok-kelompok kecil diantara

mereka, yang biasanya kelompok ini berdiri sendiri.

Pada umumnya terlihat ada kegiatan yang kooperatif untuk mencapai tujuan

tertentu.

Kelompok-kelompok kecil yang ada biasanya terdiri dari satu jenis kelamin.

c. Periode Sosialisasi II

Periode ini dilalui anak pada usia 14 tahun ke atas. Ciri-ciri kelompok ini :

 

Sudah ada pembauran antara anak laki-laki dan perempuan.

Ada peningkatan dalam kompleksitas struktur sosial.

Jumlah anak yang terisolir relatif meningkat, dibanding periode sebelumnya,

karena :

meningkatnya tuntutan kelompok tertentu semakin kompleks.

intensitas hubungan semakin dalam (intim/tidaknya hubungan seseorang).

 

 

Interpretasi anak terisolir .

 

Ciri-ciri anak terisolir / tidak diterima dalam kelompok :

 

a.

Meninggalkan kelompoknya dan tindak-tanduknya agresif.

b.

Walaupun ada yang memilihnya, tetapi dia tidak dipilih oleh kelompok

sehingga ia lepas dari kelompoknya.

c.

Adanya perasaan rendah diri. Misalnya : emosi yang tidak stabil, cemas dan

sensitif akan penampilan fisiknya.

d.

Memperlihatkan kegagalan-kegagalan untuk mendapatkan penghargaan dari

teman sebayanya dan ia gagal menemukan seseorang yang dapat ia percayai.

e.

Pada umumnya mereka tidak dapat mengatasi situasi-situasi sosial dengan

wajar dan gagal ikut berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.

2. Menurut Mary Nortway

Menurut pendapatnya anak yang terisolir dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. Recessive Group ( meninggalkan diri dari kelompok ).

Tanda-tandanya :

Tidak mempedulikan penampilan diri.

Tidak tertarik akan hal-hal yang ia miliki.

Kurang tertarik akan orang-orang dan kejadian.

Pada umumnya mempunyai cacat mental.

Pada umumnya kurang efektif menggunakan ketrampilan karena adanya

tekanan emosi dalam dirinya.

b. Un Interested Group.

Ciri-cirinya :

 

 

 

Memperlihatkan kepentingan pribadinya lebih besar daripada kepentingan

sosial ( anak yang mempunyai ego sangat besar ).

Biasanya mempunyai kesenangan tertentu.

c. In Efective Group.

Ciri-cirinya :

 

Ramai

Nakal

Sombong

Agresif yang dinampakkan dengan kekerasan fisiknya.

Suka memberontak.

Selain itu, ia juga mengemukakan tanda-tanda anak populer / star sebagai berikut:

a.

Pada umumnya kualitas kepribadian yang menyenangkan.

b.

Relatif bebas dari perasaan rendah diri dan kecemasan.

c.

Kurang begitu sensitif / kurang peka terhadap penampilan fisiknya.

d.

Mempunyai stabilitas yang tinggi dalam perkembangan emosinya dan

mempunyai kepercayaan pada dirinya bahwa ia dihargai oleh kelompok

sosialnya.

e.

Mempunyai lebih banyak teman dekat / sahabat dan banyak berkecimpung

dalam kegiatan-kegiatan kelompok.

3. Menurut Daniel S Belden.

Beberapa metode dalam mempergunakan sosiometri :

 

 

a.

Baik laki-laki maupun perempuan cenderung memilih teman terhadap mereka

yang secara umur dan prestasi sekolah mereka sama, tetapi lebih sedikit

superior dalam hal penyesuaian diri.

b.

Anak yang relatif terlalu tua, muda, pandai, bodoh, dalam hubungan di

kelompoknya cenderung menjadi terisolir.

c.

Seorang anak yang secara nyata superior tetapi tergolong inferior, bagi

pemilihannya cenderung ditolak begitu juga sebaliknya.

d.

Anak-anak mempunyai kecenderungan untuk menghindari sedapat mungkin

teman sekelasnya yang ketrampilan mentalnya ternyata superior atau inferior.

e.

Berdasarkan penelitian lainnya menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih

muda dapat mencapai status sosial rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan

anak-anak yang mempunyai umur sebaya atau di atasnya.

J. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Sosiometri

1.

Sosiometri tidak seharusnya dipergunakan sendirian, terlepas dari data yang

dikumpulkan melalui metode lain.

2.

Agar menghasilkan data yang valid, pembimbing/pengumpul data harus mengikuti

semua prosedur / langkah-langkah penyelenggaraan sosiometri secara tepat.

3.

Informasi yang diperoleh harus dijaga kerahasiannya. Hal ini dimaksudkan untuk

menghindari terjadinya anak yang terisolir menjadi makin rendah diri.

4.

Perlu diusahakan untuk meniadakan klik-klik di dalam kelompok sosial.

 

 

5.

Pemindahan anak-anak yang terisolir masuk ke dalam kelompok lain, harus

diperhatikan interaksi penerimaan kedua belah pihak.

6.

Pembimbing perlu menyadari kebutuhan khusus apa yang diperlukan oleh

individu-individu tertentu.

K. Angket / Kuesioner Sosiometri

Untuk mendapatkan materi di dalam sosiometri, biasanya dipergunakan angket

sosiometri dan hasil dari kuesioner ini diolah lebih lanjut sehingga menghasilkan

sosiometri itu. Angket tersebut dapat berbentuk sebagai berikut :

 

1. Bentuk pertama.

Tanggal : ………………………

Nama : ………………………

Kriterium : ………………………

 

 

Yang disukai :

Yang tidak disukai :

 

1. ……………………………………… 1. ……………………………………..

2. ……………………………………… 2. ……………………………………..

3. …………………………………….. 3. ……………………………………..

2. Bentuk kedua.

A. Siapakah diantara teman-temanmu yang kamu pilih sebagai teman belajar ?

1. …………………………………….. alasan ………………………………………..

2. …………………………………….. alasan ………………………………………..

3. …………………………………….. alasan ………………………………………..

B. Siapakah diantara teman-temanmu yang tidak kamu sukai untuk belajar bersama ?

1. …………………………………….. alasan ………………………………………..

 

 

2. …………………………………….. alasan ………………………………………..

3. …………………………………….. alasan ………………………………………..

Dengan melihat angket sosiometri, kita dapat mengetahui macam/ bentuk dalam

menentukan hubungan sosial :

1. Pemilihan sebagai arah yang positif.

2. Pemilihan sebagai arah yang negatif.

L. Konfigurasi dalam Sosiogram

Sehubungan dengan macam/bentuk hubungan sosial (pemilihan dan penolakan), maka

kita dapat mengetahui adanya beberapa konfigurasi yang menyatakan erat tidaknya

hubungan/relasi sosial yang terjadi. Konfigurasi adalah hubungan atau relasi sosial

dari individu -individu dalam suatu kelompok sehingga membentuk suatu susunan

yang tertentu (Bimo Walgito, 1987). Macam-macam konfigurasi adalah sebagai

berikut:

 

1. Bentuk ini merupakan suatu persahabatan atau hubungan yang

erat, intensitas

yang cukup kuat.

ABC

2. Bentuk ini mempunyai intensitas hubungan yang lebih kuat dari pada konfigurasi

yang pertama.

ABC

 

 

3. Konfigurasi ini kurang baik, karena jika M yang berkedudukan sebagai pusat

tidak ada, maka kelompok ini akan bubar.

M

 

 

4. Konfigurasi ini mempunyai intensitas hubungan yang cukup kuat.

ABCDE

5.

Konfigurasi ini mempunyai intensitas hubungan yang kuat sekali, yang

tidak mudah terpisah karena masing-masing mempunyai hubungan

sosial yang baik.

ABCDE

Dalam sosiogram, berdasarkan cara memilih dan jumlah pemilih dapat

dilihat adanya kasus-kasus istimewa yaitu :

 

1. Yang paling banyak dipilih disebut bintang (star).

2. Yang paling sedikit dipilih atau sama sekali tidak

dipilih disebut terpencil (isolated).

3.Yang saling memilih disebut timbal balik (mutual).

 

 

4. Tiga

orang yang saling memilih disebut segitiga

(triangle).

5. kelompok tertutup (klik). Ada tiga bentuk klik yaitu:

a. Klik chain

A B C D

 

 

b. Klik terbuka.

ABCDE

c. Klik tertutup.

ABC

M. Analisa Indeks.

Pada umumnya hasil sosiometri itu dianalisa lebih lanjut dan salah satunya adalah

dengan analisa indeks. Dalam analisa ini kita menghitung berapakah jumlah indeks

untuk masing-masing individu dalam tiap-tiap kelompok yang ingin diselidiki. dalam

analisa ini ada 3 status kedudukan, yaitu :

 

1. Status pemilihan (choice status : cs).

Untuk mencari status pemilihan dari seseorang dalam suatu kelompok dapat dicari

dengan rumus :

jumlah anak yang memilih A

csA = ——————————————N-

1

Range : 0 sampai 1.

Jika indeks popularitasnya 0, berarti popularitas individu itu jelek (tidak ada yang

memilih). Jika indeks popularitasnya 1, berarti popularitas individu itu baik (semua

 

 

 

memilih individu tersebut). Dengan demikian kita dapat menempatkan tiap-tiap

individu/anak pada rentang tersebut .

 

2. Status penolakan (rejection status : rs)

Rumus :

jumlah anak yang menolak A

rsA = —————————————-N-

1

Range : -1 sampai 0.

Jika indeks popularitas -1, berarti individu itu ditolak (tidak disenangi

teman-temannya). Jika indeks popularitasnya 0, berarti individu itu tidak ditolak

(disenangi teman-temannya). Setelah kita mengetahui indeks dari masing-masing

anak dalam pergaulan sosialnya dengan teman-temannya, selajutnya kita dapat

menempatkan masing-masing anak dalam rentang pergaulannya.

 

3. Status pemilihan dan penolakan (cs dan rs)

Rumus :

jumlah pemilih A -jumlah penolak A

cs.rs A = —————————————————N-

1

Range : -1 sampai 1

Jika indeks popularitas -1, berarti iindividu itu paling ditolak. Jika indeks

popularitasnya 1, berarti individu itu paling populer. Dengan skala ini kita dapat

menempatkan masing-masing anak dalam rentang pergaulannya sesuai dengan

nilai indeks yang dicapai oleh masing-masing anak dalam kelompok itu.

 

 

 

Keterangan : A : kode anak yang diselidiki.

 

N : jumlah anak dalam kelompok

Contoh menghitung analisa indeks !

Dari hasil angket sosiometri, dapat dibuat tabulasi sebagai berikut:

 

 

Pemilih

Dipilih

A

B

C

D

E

Jml

pemi

-lih

Jml

peno-

lak

A

¤ m ¤ m 2

2

B

¤ ¤ m ¤ 3

1

C

m m m m 0

4

D

¤ ¤ ¤ m ¤ 4

0

E

m m m ¤ 1

3

4

4

4

4

4

10

10

 

 

Keterangan : ¤:

disukai

 

m :

tidak disukai

Setelah tabulasi dibuat, selanjutnya kita dapat mencari indeks popularitas dari

masing-masing individu. Sebagai contoh, misalnya kita akan mencari indeks

 

popularitas A dan B :

2 2

cs A = ——= ——-= 0.5

5 -1 4

3

cs B = —–5

-1

3

= ——-= 0.75

4

 

22 11

rs A = ———= ——-= 0.5 rs B = ———= ——–= 0.25

 

 

 

 

5-1 4

5-1 4

 

2-2 0

3-1 2

 

cs.rs A = ———= —-= 0 cs.rs B = ——–= ——= 0.5

5-1 4 5-1 4

 

 

N. Kelebihan dan kelemahan Sosiometri

1.

Kelebihan sosiometri

Dengan sosiometri kita dapat :

 

a.

mengetahui hubungan sosial antar siswa.

b.

meningkatkan hubungan sosial antar siswa.

c.

menempatkan siswa dalam kelompok yang sesuai.

d.

menemukan siswa mana yang mempunyai masalah penyesuaian diri dengan

kelompoknya.

e.

membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara siswa dengan penerimaan

sosialnya.

f.

membantu meningkatkan pemahaman siswa dalam pergaulan yang sedang

dialami.

g.

membantu konselor dalam menciptakan iklim sosial yang lebih baik dengan

menyesuaikan program yang konstruktif.

2. Kelemahan sosiometri.

a.

sangat sulit dijamin kerahasiaannya, karena siswa cenderung saling mananyai

pilihannya.

b.

siswa memilih bukan atas dasar pertimbangan dengan siapa dia akan paling

berhasil dalam melakukan pekerjaan, tetapi atas dasar rasa simpati dan

antipati.

 

 

c. memerlukan waktu banyak / lama.

 

 

 

Contoh Tabel Program Bimbingan dan Konseling Tahun 2013

(Tahunan, Semester, Bulanan, Mingguandan Harian)

 

Program Tahunan

Program BK memuat materi, bidang, kegiatan layanan/ pendukung, sarana dan biaya, serta jadwal kegiatan.(Sumber : Rubrik Penilaian Kinerja Guru). Program  Tahunan yaitu  program  pelayanan  bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahunajaran untuk masing-masing kelas rombongan belajar padasatuan pendidikan. (Sumber : Permendikbud No 81A Tahun 2013)

 

Program Tahunan

Pelayanan Bimbingan dan Konseling

 

Sekolah

SMA Negeri 1 Sukses

Konselor

Eko Susanto, M.Pd.,Kons.

Tahun Ajaran

2013-2014

Kelas

X – 1

 

No

Komponen Program

Deskripsi

Keterangan

1

Strategi/ Kegiatan Pelayanan

Layanan Orientasi, LayananInformasi, Tampilankepustakaan, Bimbingankalsikal, Bimbingankelompok, Kolaborasikonselor-guru, Kolaborasi dgnorangtua.

Semua strategi/kegiatan pelayanan seberikan sesuai kebutuhan, dengan demikian memungkinkan ada strategi/kegiatan pelayanan yang tidak dilakukan karena alasan tertentu.

Layanankonsultasi, Konseling individual, Konselingkelompok, Konselingkrisis, Referal/ Rujukan/Alihtangan, Bimbingantemansebaya, Advokasi, Konferensikasus, Kunjunganrumah

Penilaianindividu/kelompok, Bantuan individual/ kelompok, LayananPenempatan dan Penyaluran, Layananpenguasaankonten, Aplikasiinstrumentasi, Himpunan data

Pengembanganprofesi, Konsultasi ahli, Kolaborasi dg pimpinan/staf, Sistemmanajemen, MOU/Kesepakatan

Layananmediasi, Evaluasi, akuntabilitasdll

2

Bidang Pelayanan

Pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi bidang pribadi, sosial, akademik dan karir

Pelayanan dapat diberikan secara individual, kelompok, klasikal, lapangan, kolaboratif, dan jarak jauh

3

Materi Pelayanan

(Materi Pelayanan dapat diganti sesuai dengan hasil need asessment)

Materi meliputi bidang Pribadi, Sosial, Akademik dan Karir yang berorientasi pada perkembangan peserta didik.

 

  1. Upaya untuk membantu konseli agar  (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

Materi pelayanan dirumuskan dan dikemas atas dasar  standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan:(1)  self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah,   (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya,  dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan,  (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniahrohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

  1. Upaya untuk mengintervensi masalah-masalah konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan/akademik.

 

Misalnya kebutuhan untuk memperoleh informasi tentang pilihan karir dan program studi, sumber-sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas. Masalah lain (gejala perilaku bermasalah) yang mungkin dialami konseli diantaranya:  (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang), (4) membolos dari Sekolah/Madrasah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9) malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas (free sex), (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.

  1. Upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembang-an dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

 

Antara lain mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan,  memilih kursus atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan  memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2) karir meliputi  mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan     (3) sosial-pribadi meliputi  pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

4

Pelayanan dan kegiatan manajemen

(dapat disesuaikan)

Pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli.

Meliputi aspek-aspek:

  1. a.   Kolaborasi dan Pengembangan Jejaring (networking)

Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah, (4) bekerjasama dengan personel Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6) melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. b.  PengembanganProfesi; Konselor secara terus menerus berusaha untuk “mengupdate” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
  2. c.   ManajemenProgram; Program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkinkan tercipta, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem manajemen yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Oleh karena itu bimbingan dan konseling harus ditempatkan sebagai bagian terpadu dari seluruh program Sekolah/Madrasah dengan dukungan wajar baik dalam aspek ketersediaan sumber daya manusia (konselor), sarana, dan pembiayaan.

5

Sarana

(dapat disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing)

Sarana pelayanan menyesuaikan dengan bantuan yang diberikan.

 

Beberapa diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut:

Ruangan BK, Ruangan untuk kegiatan kelompok dan klasikal, ruangan Konseling Individu, alat bantu presentasi (Laptop,LCD Proyektor,dll), bahan atau modul layanan (keperluan administrasi, instrumentasi, buku pribadi siswa, Komputer, Printer, kertas, dll),

6

Biaya

 

(dapat disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing dan rasional)

Biaya yang dibutuhkan dan diusulkan tahun 2013 sebesar:

Rp 10.000.000,- terbilang (Sepuluh Juta Rupiah)

  1. Penggunaan biaya Semester Ganjil (Rp 6.000.000,-) dengan prioritas program pelayanan :

-  Kegiatan Asesmen (Pengadaan Tes/Penyebaran Angket)

-  Pengelolaan dan analisis tes/angket peminatan

-  Perencanaan program

-  Pengadaan bahan layanan

-  Penggandaan program

-  Evaluasi dan Penyusunan Laporan

-  Pengembangan Profesi

-  Operasional Harian

  1. Penggunaan biaya Semester Genap (Rp 4.000.000,-)

-  Operasional Harian

-  Pengembangan Profesi (MGBK, seminar, workshop dll)

-  Pemantapan Peminatan

-  Penyusunan Laporan

7

Jadwal Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan tersusun secara rinci pada Program Bulanan.

Jadwal disesuaikan dengan materi, minggu efektif dan kalender pendidikan.

 

 

 

 

Contoh Tabel Program Bimbingan dan Konseling Tahun 2013

(Tahunan, Semester, Bulanan, Mingguandan Harian)

 

Program Tahunan

Program BK memuat materi, bidang, kegiatan layanan/ pendukung, sarana dan biaya, serta jadwal kegiatan.(Sumber : Rubrik Penilaian Kinerja Guru). Program  Tahunan yaitu  program  pelayanan  bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahunajaran untuk masing-masing kelas rombongan belajar padasatuan pendidikan. (Sumber : Permendikbud No 81A Tahun 2013)

 

Program Tahunan

Pelayanan Bimbingan dan Konseling

 

Sekolah

SMA Negeri 1 Sukses

Konselor

Eko Susanto, M.Pd.,Kons.

Tahun Ajaran

2013-2014

Kelas

X – 1

 

No

Komponen Program

Deskripsi

Keterangan

1

Strategi/ Kegiatan Pelayanan

Layanan Orientasi, LayananInformasi, Tampilankepustakaan, Bimbingankalsikal, Bimbingankelompok, Kolaborasikonselor-guru, Kolaborasi dgnorangtua.

Semua strategi/kegiatan pelayanan seberikan sesuai kebutuhan, dengan demikian memungkinkan ada strategi/kegiatan pelayanan yang tidak dilakukan karena alasan tertentu.

Layanankonsultasi, Konseling individual, Konselingkelompok, Konselingkrisis, Referal/ Rujukan/Alihtangan, Bimbingantemansebaya, Advokasi, Konferensikasus, Kunjunganrumah

Penilaianindividu/kelompok, Bantuan individual/ kelompok, LayananPenempatan dan Penyaluran, Layananpenguasaankonten, Aplikasiinstrumentasi, Himpunan data

Pengembanganprofesi, Konsultasi ahli, Kolaborasi dg pimpinan/staf, Sistemmanajemen, MOU/Kesepakatan

Layananmediasi, Evaluasi, akuntabilitasdll

2

Bidang Pelayanan

Pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi bidang pribadi, sosial, akademik dan karir

Pelayanan dapat diberikan secara individual, kelompok, klasikal, lapangan, kolaboratif, dan jarak jauh

3

Materi Pelayanan

(Materi Pelayanan dapat diganti sesuai dengan hasil need asessment)

Materi meliputi bidang Pribadi, Sosial, Akademik dan Karir yang berorientasi pada perkembangan peserta didik.

 

  1. Upaya untuk membantu konseli agar  (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

Materi pelayanan dirumuskan dan dikemas atas dasar  standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan:(1)  self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah,   (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya,  dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan,  (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniahrohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

  1. Upaya untuk mengintervensi masalah-masalah konseli yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan/akademik.

 

Misalnya kebutuhan untuk memperoleh informasi tentang pilihan karir dan program studi, sumber-sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas. Masalah lain (gejala perilaku bermasalah) yang mungkin dialami konseli diantaranya:  (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang), (4) membolos dari Sekolah/Madrasah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9) malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas (free sex), (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.

  1. Upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembang-an dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

 

Antara lain mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan,  memilih kursus atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan  memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2) karir meliputi  mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan     (3) sosial-pribadi meliputi  pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

4

Pelayanan dan kegiatan manajemen

(dapat disesuaikan)

Pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli.

Meliputi aspek-aspek:

  1. a.   Kolaborasi dan Pengembangan Jejaring (networking)

Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah, (4) bekerjasama dengan personel Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6) melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. b.  PengembanganProfesi; Konselor secara terus menerus berusaha untuk “mengupdate” pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
  2. c.   ManajemenProgram; Program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkinkan tercipta, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem manajemen yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Oleh karena itu bimbingan dan konseling harus ditempatkan sebagai bagian terpadu dari seluruh program Sekolah/Madrasah dengan dukungan wajar baik dalam aspek ketersediaan sumber daya manusia (konselor), sarana, dan pembiayaan.

5

Sarana

(dapat disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing)

Sarana pelayanan menyesuaikan dengan bantuan yang diberikan.

 

Beberapa diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut:

Ruangan BK, Ruangan untuk kegiatan kelompok dan klasikal, ruangan Konseling Individu, alat bantu presentasi (Laptop,LCD Proyektor,dll), bahan atau modul layanan (keperluan administrasi, instrumentasi, buku pribadi siswa, Komputer, Printer, kertas, dll),

6

Biaya

 

(dapat disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing dan rasional)

Biaya yang dibutuhkan dan diusulkan tahun 2013 sebesar:

Rp 10.000.000,- terbilang (Sepuluh Juta Rupiah)

  1. Penggunaan biaya Semester Ganjil (Rp 6.000.000,-) dengan prioritas program pelayanan :

-  Kegiatan Asesmen (Pengadaan Tes/Penyebaran Angket)

-  Pengelolaan dan analisis tes/angket peminatan

-  Perencanaan program

-  Pengadaan bahan layanan

-  Penggandaan program

-  Evaluasi dan Penyusunan Laporan

-  Pengembangan Profesi

-  Operasional Harian

  1. Penggunaan biaya Semester Genap (Rp 4.000.000,-)

-  Operasional Harian

-  Pengembangan Profesi (MGBK, seminar, workshop dll)

-  Pemantapan Peminatan

-  Penyusunan Laporan

7

Jadwal Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan tersusun secara rinci pada Program Bulanan.

Jadwal disesuaikan dengan materi, minggu efektif dan kalender pendidikan.

 

 

 

 

Kurikulum 2013, Peran Guru BK Sangat Penting

 

Senin, 06 Mei 2013 18:12 wib

 

 

Ilustrasi (Foto : Kemendikbud) Ilustrasi (Foto : Kemendikbud)

 

JAKARTA - Siap tidak siap, kurikulum 2013 akan mulai diterapkan pada tahun ajaran mendatang. Dalam penerapannya, kurikulum baru tersebut menekankan peranan guru bimbingan konseling (BK) yang semakin tinggi.

Demikian diungkapkan Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang (Unnes) Mungin Eddy Wibowo dalam Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling besutan Jurusan BK Unnes, belum lama ini. Dia menyebut, tantangan yang harus segera diluruskan adalah seharusnya guru BK di sekolah merupakan konselor yang mendidik, bukan dianggap sebagai “polisi sekolah” atau momok yang ditakuti oleh siswa.

“Peran guru BK dalam implemetasi kurikulum 2013 akan semakin penting. Pasalnya di tingkat SMA sederajat, penjurusan ditiadakan, diganti dengan kelompok peminatan,” kata Mungin, seperti disitat dari situs Unnes, Senin (6/5/2013).

Menurut Mungin, dengan diberlakukannya kelompok peminatan, maka guru BK memiliki tugas untuk memberikan pendampingan secara intensif kepada siswa. Diharapkan, siswa dapat memilih sesuai dengan kemampuan, bakat, serta minatnya.

“Dengan adanya program kelompok peminatan, maka peran dan tugas guru BK semakin besar. Karena sejak awal masuk, siswa harus diarahkan sesuai dengan bakat, minat, dan kecenderungan pilihannya,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan, ke depan, peran dan tanggungjawab guru BK terhadap siswa SMP juga harus lebih nyata. Sebab, guru BK harus mulai mengamati dan mendampingi anak sejak kelas satu.

“Harus dilihat dan dampingi, anak tersebut senang dan minat pada mapel apa. Untuk mengarahkan studi lanjutannya, ke SMA atau SMK,” ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) itu.

Ketua Panitia Seminar Sri Hartati menyebut, perubahan dan penyempurnaan kuriukulum adalah hal yang lumrah. Namun, persepsi yang berkembang di masyarakat dan isu-isu yang mengemuka mengakibatkan keresahan, kebingungan, dan bahkan kepanikan termasuk bagi guru BK.

“Seminar nasional ini diusahakan tidak hanya sebatas teoritis belaka, tapi bagaimana menyusun rencana aksi yang berbasis pada peminatan siswa. Dengan demikian peserta dapat mengetahui bagaimana guru BK memberikan pendampingan dan arahan kepada siswa secara berkelanjutan, bagaimana guru BK mengidentifikasi apa yang diminati dan masalah yang dihadapi siswa, serta bagaimana metode monitoring dan konseling yang seharusnya dilakukan sesuai kurikulum baru ini,” urai Tatik. (mrg)

Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah (Oleh :St Kartono)

TUJUAN pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja. Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal.
Penulis merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.

 

Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum.

 

Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.

 

BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.

 

Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.

 

BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah dan semua pihak yang terlibat dalam proses kependidikan.