Beranda » Uncategorized » oleh : ibrahimII. TINJAUAN PUSTAKABerdasarkan dengan ruang lingkup

oleh : ibrahimII. TINJAUAN PUSTAKABerdasarkan dengan ruang lingkup

Gambar

oleh : ibrahim

II. TINJAUAN PUSTAKA

Berdasarkan dengan ruang lingkup permasalahan yang di teliti dalam penelitian ini maka dapat dijelaskan bahwa tinjauan pustaka adalah teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang objek yang akan diteliti. Dengan demikian, dalam penelitian diperlukan teori-teori yang mendukung objek yang akan diteliti.  Berikut akan dibahas mengenai peranan guru bimbingan dan koseling di sekolah terhadap pemilihan jurusan siswa.

A.    Pengertian Bimbingan dan Konseeling

1.   Pengertian Bimbingan

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Menurut Crow & Crow,(1960) bimbingan adalah:
Bantuan yang diberikan seseorang, laki-laki atauperempuan, yang memiiki keperibadian yang memadai dan terlatih dengan     baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.

Menurut Juntika, (2009:8) Bimbingan perkembangan di lingkungan pendidikan merupakan pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat memahami dirinya, lingkungan, dan tugas-tugasnya sehingga mereka dapat mengarahkan diri, menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan keadaan dan tuntutan lembaga pendidikan, keadaan keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja yang akan dimasukinya kelak.  

Dengan pemberian layanan bimbingan, mereka lebih produktif, dapat menikmati kesejahteraan hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti pada lembaga tempat mereka bekerja kelak, serta masyarakat pada umumnya.  Pemberian bimbingan juga membantu mereka mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal.  

2.   Pengertian Konseling

Konseling merupakan salah satu upaya untuk membantu mengatasi berbagai konflik, hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya, sekaligus sebagai upaya meningkatkan kemampuan individuuntuk menyesuaikan diri (kesehatan mental).  Konseling merupakan salah satu bentuk bantuan yang dirancang secara khusus untuk membantu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh individu.

Konseling merupakan pekerjaan professional yang memiliki fungsi dan cara kerja yang khas sesuai dengan bidang keilmuannya.  Saat ini profesi konseling merupakan profesi yang penting seperti profesi-profesi lainnya.  Konseling sebagai suatu profesi yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang, konseling merupakan suatu pekerjaan yang harus dilakukan secara professional.  Bekerja secara professional hanya dapat dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidangnya.
Menurut Prayitno dan Amti , (1999:105)

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli yang disebut dengan konselor kepada individu yang mengalami sesuatu masalah yang di sebut dengan konselee yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh konselee.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulakan bahwa hakikat konseling adalah sebagai berikut.
a.    Konseling adalah hubungan antar pribadi satu orang ahli (konselor) dengan satu atau lebih individu yang bermasalah (konseelee)
b.    Konseling adalah proses hubungan yang dilakukan secara berkesinambungan bukan dilakukan hanya sesaat.
c.    Konseling adalah hubungan yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.
d.    Konseeling adalah suatu hubungan khusus dirancang untuk memberikan bantuan kepada konselee.
e.    Konseling adalah suatu hubungan konselor terlatih (pemberi bantuan) dengan individu yang dibantu (konselee)
f.    Konseling adalah hubungan yang mengutamakan adanya keterbukaan, untuk memahami dirinya secara luas.
Konseeling adalah upaya menolong individu (konselee) untuk dapat menolong dirinya sendiri.
B.    Tujuan Bimbingan dan Konseling

Sejalan dengan perkembangan bimbingan dan konseling maka tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan dari yang sederhana sampai yang lebih komprehensif. Perkembangan yang mengacu pada perubahan positif pada diri individu merupakan tujuan dari semua upaya bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling bertujuan agar klien dapat:
1.    Mengadakan perubahan tingkah laku secara positif
2.    Melakukan pemecahan masalah
3.    Melakukan pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran dan   pengembangan pribadi
4.    Mengembangkan penerimaan diri
5.    Memberikan pengukuhan

Menurut Prayitno dan Amti , (1999:112) dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam kutipan-kutipan tersebut,  tujuan bimbingan dan konseling adalah : “Untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya) berbagai latar belakang yang ada (seperti keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi) serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya”. Dalam kaitan ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.

Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas dan sangkkutpautnya serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.

Menurut Prayitno dan Amti, (1999 : 114) Tujuan bimbingan dan konseling dibagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a.    Tujuan umum
Tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu untuk memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemempuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latarbelakang keluarga, pendidikan, status social ekonomi), serata sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.

Dalam hal ini bimbingan dan konseling membantu individu menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian, dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.  Bimbingan dan konseling juga membantu individu uaantuk menjadi insan yang mandiri, memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri, mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana, serta dapat mewujudkan dirinya secara optimal.
b.    Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.

C.    Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat, ataupun keuntungan-keuntungan apa yang diperolehdari pelayanan bimbingan dan konseling.  Fungsi bimbingan dan konseling dapat dikelompokkan menjadi lima fungsi pokok, yaitu:

1.    Fungsi Pemahaman

Keuntungan-keuntungan, manfaat, kegunaan dengan pelayanan pemahaman, dengan fungsi ini manfaatnya besar sekali sebab dengan memahami konselee maka kegiatan-kegiatan layanan apa yang akan dilakukan akan sesuai dengan apa yang dibutuhkan peserta didik.  Fungsi pemahaman sebagai dasar untuk melakukan fungsi-fungsi yang lainnya.

2.    Fungsi Pencegahan

Ada selogan yang mengatakan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, hal ini merupakan bahwa dalam bidang bimbingan dan konseling sebenarnya sangat mendambakan individu yang tidak mengalami masalah, untuk itu sebisa mungkin seorang konselor harus bias mencegah timbulnya masalah pada setiap individu agar ia dapat berkembang secara optimal.

Menurut Homer & McElhaney, (1993) pelayanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi pencegahan, artinya merupakan suatu pencegahan terhadap timbulnya masalah.  Dalam fungsi ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para peserta didik agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat berbagai perkembangannya.  Lingkungan dapat menimbulkan masalah (Prayitno, 1994).

3.    Fungsi Pengembangan

Bimbingan dan konseling dapat berfungsi pengembangan, artinya layanan yang diberikan dapat membantu para peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap.  Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang sudah bersifat positif dijaga agar tetap baik dimantapkan.  Dengan demikian dapat diharapkan para peserta didik dapat mencapai perkembangan optimal.

4.    Fungsi Perbaikkan/Pengentasan

Fungsi perbaikkan juga sering disebut fungsi  pengentasan.  Bimbingan dan konseling juga dapat berfungsi sebagai perbaikkan atau pengentasan, sasarannya adalah peserta didik atau individu yang mengalami kesulitan ataumengalami masalah.  Pada dasarnya semua individu dalam kehidupan selalu dihadapkan pada persoalan, persoalan tersebut ada yang mampu diselesaikan sendiri oleh individu yang bersangkutan, tetapi ada persoalan-persoalan yang tidak mampu di pecahkan oleh dirinya sendiri.  Persoalan inilah yang menjadi masalah dan disinilah fungsi pengentasan dan perbaikkan diperlukan. (Prayitno, 1994)

5.    Fungsi Advokasi

Fungsi advokasi merupakan suatu pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya untuk membantu siswa dalam membela diri berdasarkan realitasatau kondisi rill.  Pendidikan sebagai upaya membantu peserta didik untuk menembangkan diri dan potensi yang dimiliki secara optimal.  Bimbingan yang banyak memahami siapa sebenarnya peserta didik secara individu, maka wajar dan seharusnya membela peserta didik dikala di sudutkan dalam suatu permasalahan porposional dan professional.

D.    Bentuk-Bentuk Layanan Bimbingan dan Konseling

Sofyan. S. Willis (2004 : 32-35) mengatakan Berdasarkan kurikulum SMU 1994, kegiatan layanan bimbingan dan konseling terdiri dari :

1.    Layanan Orientasi

Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dikoordinir guru pembimbing dengan bantuan semua guru dan wali kelas, dengan tujuan membantu mengorientasikaan (mengarahkan, membantu, mengadaptasi) siswa (juga pihak lain yang dapat memberi pengaruh, terutama orang tuanya) dari situasi lama kepada situasi bari misalnya siswaa yang baru masuk ke SMA.

Adapun kegiatan dalam layanan orientasi adalah layanan informaasi, yaitu memberikan keterangan tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kurikilum dan kegiatan belajar mengajar (KBM), guru-guru, para siswa lama, lingkungan fisik sekolah, kantin sekolah, ruang bimbingan dan konseling, kantor guru dan kepala sekolah, perpustakaan, laboraturium, mushola sekolah dan sebagainya.

2.    Layanan Informasi

Layanan informasi dilakukan sepanjang tahun jika diperlukan siswa dan orang tuanya demi kemajuan studi.  Karena itu layanan yang satu ini harus diprogramkan dengan baik.  

Menurut rumusan kurikulum SMU 1994 yang dimaksudkan dengan layanan informasi adalah :
“ Layanan bimbingan yang memungkinkan siswa dan pihak-pihak lain yang dapt memberi pengaruh besar keepada siswa (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan”.
Materi layanan informasi meliputi :
a.    Informasi Pendidikan
b.    Informasi Pekerjaan/Jabatan
c.    Informasi Sosial Budaya
d.    Informasi Diri Siswa

3.     Layanan Bimbingan Penempatan dan Penyaluran

Yang dimaksud dengan layanan Bimbingan Penempatan dan Penyaluran adalah : “Layanan bimbigan yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran secara tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program khusus, kegiatan ko/ekstrakurikuler), sesuai dengan potensi, bakat, dan minat, serta kondisi pribadinya”. (buku petunjuk  bimbingan dan konseling dalam kurikulum 1994)

4.    Layanan Bimbingan Belajar

Layanan bimbingan belajar yaitu layanan yang dilakukan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok sesuai dengan ketepatan dan kesulitan belajarnya, serta sebagai aspek tujuan kegiatan belajar lainnya.  Hal ini berarti siswa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah belajarnya dengan lebih cepat dan berkualitas.  Kegiatan ini dilakukan oleh guru pembimbing dan dibanti oleh wali kelas dan guru lainnya.  Dalam hal-hal kesulitan belajar ringan, dapat dibantu oleh semua guru dan wali kelas.

5.    Layanan Konseling Individual

Layanan konseling individual adalah  bantuan yang diberikan oleh konselor kepada seorang siswa dengan tujuan berkembangnya potensi siswa, mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan dapat menyesuaikan diri secara positif.

6.    Layanan bimbingan kelompok
Layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan kepada sekelompok siswa untuk memecahkan  secara bersama masalah-masalah yang menghambat perkembangan siswa.

E.    Bidang-Bidang Bimbingan dan Konseling

Dalam pelayanan bimbingan dan konseling ada empat bidang pelayanan yang harus diberikan kepada siswa yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Bimbingan karir pada hakekatnya merupakan salah satu upaya pendidikan melalui pendekatan pribadi dalam membantu individu untuk mencapai kompetisi yang diperlukan dalam menghadapi masalah-masalah karir.

F.    Peranan Guru bimbingan dan konseling
Guru bimbingan dan konseling (konselor) Sekolah adalah merupakan bagian dari unsur pendidikan yang ada disekolah yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian siswa.  Tugas Guru bimbingan dan konseling sekolah adalah sangat berbeda dengan guru mata pelajaran yang bekerjanya dapat dilihat dari jam masuk kelas dan memberi nilai.  Sedangkan Guru bimbingan dan konseling Sekolah tidak bisa dilihat seperti halnya guru mata pelajaran, karena tugas untuk membenahi dan membentuk kepribadian siswa sangatlah sulit karena kita selalu dihadapkan dengan penanganan melalui sisi yang berbeda. Misalnya apabila ada siswa yang nakal terkadang guru mata pelajaran dapat memberikan sangsi dikeluarkan dari kelas tidak boleh ikut mata pelajaran atau diberi sangai nilai sehingga siswa akan mengalami ketakutan. Namun disisi lain pribadi siswa belum terbentuk karena belum adanya kesadaran untuk merubah tetapi hanya merupakan perasaan takut kepada guru tersebut.  Tugas dari Guru bimbingan dan konseling sekolah dapat dilihat dalam POLA 17 Bimbingan Konseling. Sumber : http://blogs.teguh.web.id/search/kuliah.
Konselor sekolah adalah petugas profesional yang artinya secara formal mereka telah disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara khusus untuk menguasai seperangkat kompetensi yang diperlukan bagi pekerjaan bimbingan dan konseling. Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa konselor sekolah memang sengaja dibentuk menjadi tenaga-tenaga yang profesional dalam pengetahuan, pengalaman dan kualitas pribadinya dalam bimbingan dan konseling.
Oleh karena itu tugas-tugas yang diembannya pun mempunyai kreteria khusus dan tidak semua orang atau semua profesi dapat melakukanya.
Sukardi, (1985 : 20) menyatakan tugas-tugas konselor sekolah antara lain :
a.    Bertanggung jawab tentang keseluruhan pelaksanaan layanan konseling di sekolah.
b.    Mengumpulkan, menyusun, mengelola, serta menafsirkan data, yang kemudian dapat dipergunalkan oleh semua staf bimbingan di sekolah.
c.    Memilih dan mempergunakan berbagai instrument psikologis untuk memperoleh berbagai informasi mengenai bakat khusus, minat, kepribadian, dan inteleginsinya untuk masing-masing siswa.
d.    Melaksanakan bimbingan kelompok maupun bimbingan individual (wawancara konseling).
e.    Mengumpulkan, menyusun dan mempergunakan informasi tentang berbagai permasalahan pendidikan, pekerjaan, jabatan atau karir, yang dibutuhkan oleh guru bidang studi dalam proses belajar mengajar.
f.    Melayani orang tua Wali murid ingin mengadakan konsultasi tentang anak-anaknya.
Konselor adalah seorang anggota staf sekolah dan bertanggung jawa penuh terhadap fungsi bimbingan dan mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa. Konselor / guru pembimbing bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan hanya mempunyai hubungan kerjasama dengan guru serta anggota staff lainnya.
Yusuf Dan Chatherine, (1992: 207) Konselor bersama kepala sekolah merencanakan program bimbingan yang sistematis yang meliputi :
a.    Program pengembangan pendidikan guru.
b.    Program konsultasi untuk guru dan orang tua.
c.    Program konseling untuk murid.
d.    Program layanan referral untuk murid.
e.    Program pengembangan dan penelitian sekolah.
f.    Penelitian hasil belajar dan layanan bimbingan lainnya.
Dalam menjalankan tugasnya seorang konselor sekolah harus mampu melaksanakan peranan yang berbeda-beda dari situasi ke situasi lainnya.
Pada situasi tertentu kadang-kadang seorang konselor harus berperan sebagai seorang teman dan pada situasi berkutnya berperan sebagai pendengar yang baik atau sebagai pengobar/ pembangkit semangat, atau peran-peranan lain yang dituntut oleh klien dalam proses konseling.
Winkel (1991 ; 71) pun berpendapat tentang peranan konselor di sekolah yaitu: Konselor sekolah dituntut mempunyai peranan sebagai orang kepercayaan konseli/ siswa, sebagai teman bagi konseli/ siswa, bahkan konselor sekolahpun dituntut agar mampu berperan sebagai orang tua bagi klien/ siswa.
Oleh karena itu untuk menjalankan tugasnya, seorang konselor harus memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya persyaratan pendidikan formal, kepribadian, latihan atau pengalaman khusus. (Sukardi, 1985 : 22)  
Selain itu, masih banyak anggapan bahwa peranan konselor sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah.  (Prayitno dan Amti, 1999, 122).
Meskipun demikian konselor harus selalu mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal sekolah lainnya guna terlaksananya program bimbingan dan konseling yang telah direncanakan, juga menjalin hubungan kepada semua siswa baik siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir, maupun kepada siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah guna membantu dan memfasilitasi siswa dalam menyelesaikan kesulitan atau masalah.
Nampak bahwa pengembangan diri siswa dimulai dengan merancang program untuk optimalisasi potensi guru, orang tua, dan siswa. Untuk itu peran guru bimbingan dan konseling menjadi sangat sentral dalam sebuah sekolah.
A.    Tinjauan Tentang Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan gambaran mengenai pengertian persepsi agar dapat menjelaskan permasalahan yang dibahas.
Berikut ini beberapa pengertian tentang persepsi dari para ahli.

Walgito manyatakan bahwa “Persepsi adalah merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yang merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus melalaui alat reseptornya”. (Bimo Walgito, 1993:53)
Sedangkan Sarwonon mengatakan bahwa “persepsi adalah untuk membeda-bedakan antara benda yang satu dengan yang lainnya, mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau serupa serta dapat memfokuskannya pada suatu objek”.
Berdasarkan pendapat diatas, persepsi dapat ditarik kesimpulan sebagai tanggapan atau pandangan seseorang terhadap suatu objek yang dipengaruhi penginderaannya, lingkungan, pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan sehingga dapat memberikan makna sebagai hasil dari pengamatan.

Persepsi terhadap suatu objek akan berbeda pada masing-masing individu tergantung pada pengalamannya, proses belajar, sosialisasi, cakrawala dan pengetahuannya masing-masing individu tentang objek tersebut.
Hal ini sependapat dengan Irawanto yang menyatakan “persepsi bersifat subjektif karena bukan sekedar penginderaan, prestasi kita terhadap dunia nyata merupakan olahan semua informasi yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan pengalaman kita. Maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu pandangan atau tanggapan individu terhadap suatu objek yang dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar atau sosialisasi pengetahuan dan cakrwala individu tentang objek tertentu.

Seorang individu dapat mengadakan persepsi terhadap suatu objek apabila terpenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
1)    Perhatian, biasanya seseorang tidak akan menangkap seluruh rangsangan yang ada disekitarnya sekaligus, tetapi akan memfokuskan perhatiannya pada satu atau suatu objek saja. Perbedaan fokus akan menyebabkan perbedaan persepsi.
2)    Set, yaitu harapan seseorang akan rangsangan yang timbul, misalnya seorang pelari yang akan melakukan start terhadap set bahwa akan terdengar bunyi pistol disaat harus memulai.
3)    Kebutuhan, kabutuhan yang sesaat maupun yang menetap pada diri seseorang akan mempengaruhi persepsi orang tersebut.
4)    Sistem Nilai, sistem yang berlaku pada suatu masyarakat akan mempengaruhi pula pada persepsi.
5)    Ciri Kepribadian, misalnya A dan B bekerja di sebuah kantor, si A tokoh yang menakutkan, sedangkan B yang penuh percaya diri menganggap atasannya sebagai seseorang yang bisa diajak bergaul seperti yang lain.
6)    Gangguan kejiwaan, hal ini menimbulkan kesalahan persepsi yang disebut halusinasi.
    (Sarlito, : 1983:43-44)
 
Faktor pengalaman dan proses belajar (sosialisasi) memberikan bentuk struktur terhadap apa yang dilihat, sedangkan faktor pengetahuan dan cakrawala memberikan arti terhadap objek psikologik tersebut. Setiap orang memperhatikan, mengorganisasikan dan menafsirkan semua pengalamannya secara selektif. Stimuli secara secara selektif artinya, stimuli di urutkan, dan selanjutnya, disajikan sebuah gambaran yang menyeluruh, lengkap, dan dapat di indera. Tidak mudah memahami cara orang lain mengorganisasikan sekaligus memikirkan cara kita sendiri. Setelah stimuli dipersepsi dan diorganisasikan secara selektif, selanjutnya stimuli ditafsirkan secara selektif pula, artinya stimuli diberi makna secara unik oleh orang yang menerimanya.

Alport (dalam Mar’at, 1991)
proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada.

Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:

1)    Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2)    Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.
3)    Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
4)    Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:

1)    Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2)    Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
3)    Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.

B.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari :
1) Pelaku persepsi (perceiver)
2) Objek atau yang dipersepsikan
3) Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal orang itu (Robbins, 2003).
Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.
Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:
a. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural. Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan sesuatu.
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi (perceiver), obyek yang dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.

B. 2 Aspek-aspek Persepsi

Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Mar’at, 1991) ada tiga yaitu:

1. Komponen kognitif
Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.
2. Komponen Afektif
Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3. Komponen Konatif
Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya.
Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1) Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
2) Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
3) Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.
Rokeach (Walgito, 2003) memberikan pengertian bahwa dalam persepsi terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predis posisi untuk berbuat atau berperilaku.

Dari batasan ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari kontelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap.
Persepsi, kognisi, penalaran, dan perasaan sesungguhnya berlangsung secara stimultan, dan kebanyakan dari apa yang disebut pemikiran,impian, bayangan,, berkhayal, belajar, dan semacamnya merupakan kombinasi unsur-unsur persepsi,kognisi, penalaran, dan perasaan tersebut.

B.3 Proses Penerimaan Rangsangan
Proses pertama dalam persepsi ialah menerima rangsangan atau data dari berbgai sumber. Kebanyakan,data yang diterima melalui panca indera. Kita melihat sesuatu, mendengar, merasakan, atau menyentuhnya, sehingga kita memepelajari segi-segi lain dari sesuatu itu.
Setelah diterima, rangsangan atau data diseleksi. Tidaklah mungkin untuk memeperhatikan semua rangsangan yang telah diterima. Demi menghemat perhatian yang digunakan, rangsangan-rangsangan itu disaring dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut. Didalam proses penyeleksian rangsangan itu,terdapat beberapa factor yang berasal dari dalam individu,diantaranya:
a.    Kebutuhan Psikologis.
Kebutuhan psikologis seseorang mempengaruhi persepsinya. Kadang-kadang, ada hal yang” tampak” (yang sebenarnya tidak ada), karena kebutuhan psikologis.
b.    Latar Belakang
Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam persepsi. Orang-orang dengan latar belakang tertentu mencari orang-orang dengan latar belakang yang sama. Mereka mengikuti dimensi yang serupa dengan mereka.
c.    Pengalaman
Pengalaman mempersiapkan seseorang untuk mencari orang-orang, hal-hal dan gejala-gejala yang ungkin serupa dengan pribaadinya. Seseorang yang mempunyai pengalaman buruk dalam bertemu dengan jenis orang tertentu, mungkin akan menyeleksi orang-orang ini utnuk jenis persepsi tertentu. Hal yang sama juga berlaku untuk pengalaman yang menyenangkan.
d.    Kepribadian
Kepribadian juga mempengaruhi persepsi. Seseorang yang introvert mungkn akan tetarik kepada orang-orang yang serupa dengannya atau yang berkepribadian berbeda dengannya.
e.    Sikap Dan Kepercayaan Umum
Orang yang memepunyai sikap tertentu terhadap lawan jenisnya atau yang termasuk dalam kelompok bahasa tertentu, besar kemungkinan akan melihat hal kecil yang tidak diperhatikan oleh orang lain.
f.    Penerimaan Diri
Penerimaan diri merupakan sifat penting yang mempengaruhi persepsi. Beberapa telaah menunjukkan bahwa mereka yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan lebih cepat menyerap sesuatu daripada mereka yang kurang ikhlas menerima realitas dirinya. Mereka yang kurang ikhlas menerima realitas dirinya cenerung untuk mengurangi kecermatan persepsi. Implikasi dari fakta ini ialah kecermatan persepsi dapat ditingkatkan dengan membantu orang-orang untuk lebih menerima diri mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s